Thursday, December 18, 2008

Parkour: Bukan Olahraga Ekstrem

Ekstrem! Itu pasti yang terlintas di benak sebagian besar orang yang baru pertama kali melihat parkour. Benar memang, apa yang dilakukan kami akan memicu kelenjar adrenalin, tapi bukan itu yang ingin kami raih dari parkour. Bagi kami, parkour itu lebih ditujukan untuk kepuasan terhadap diri sendiri.

Apa yang membuat kami berbeda dari kegiatan ekstrem lainnya adalah kami selalu berusaha berlatih secara aman karena kami tidak dibayang-bayangi harapan mendapat penghargaan dari orang lain atas pencapaian yang diraih. Penghargaan yang kami dapat hanya berasal dari diri kami masing-masing, setiap traceur tentu sudah mengerti, push your body to the limit, but don't push it over the limit. Semua yang kami lakukan didasarkan pada latihan bertahap dan berulang-ulang.

Latar belakang seseorang berlatih parkour dapat dilihat saat sesi latihan bersama. Seseorang yang berlatih parkour dengan benar akan memulai latihannya dari gerakan-gerakan yang sederhana dan perlahan-lahan meningkat. Kebalikannya, seseorang yang menganggap parkour olahraga ekstrem akan berusaha menguasai suatu gerakan tanpa menghiraukan gerakan-gerakan dasar yang sebetulnya harus dikuasai terlebih dahulu.

Dengan kata lain, bagaimana seseorang bisa melompat apabila ia tidak dapat mendarat dengan benar. Parkour tidak menuntut kemampuan seseorang memperagakan suatu keahlian tunggal, tapi menuntut kemampuan seseorang untuk bergerak secara fluid, halus sesuai dengan rintangan yang dihadapi.

Memang agak sulit untuk menjelaskan kepada orang lain mengapa parkour tidak disebut sebagai olahraga ekstrem. Pasalnya, media kebanyakan langsung menggambarkan parkour dengan gerakan-gerakan advance tanpa menyinggung filosofi dan fundamental dari parkour itu sendiri.
Bisa jadi, dengan menampilkan gerakan-gerakan tersebut, content media tersebut dapat lebih dijual. Namun, kami, para traceurs, meyakini bahwa parkour hanya akan menjadi sesuatu kegiatan yang easy come easy go sehingga cepat dilupakan orang. Lain halnya apabila parkour diperkenalkan melalui kupasan filosofi parkour beserta metode latihan yang benar. Cara itu mungkin hanya akan menarik minat dari beberapa orang, tapi orang-orang tersebut akan berlatih dalam arah yang benar.

Banyak orang awam yang melihat video-video parkour mulai beranggapan bahwa parkour adalah olahraga ekstrem. Menggolongkannya dengan olahraga seperti skate board. Karena itu, banyak orang yang nekat melakukan gerakan-gerakan berbahaya yang akhirnya berakibat pada cedera serius. Padahal, parkour tak hanya berhubungan dengan nyali, tapi juga sangat berhubungan erat dengan pikiran matang, latihan fisik dan teknik yang terus-menerus dilakukan.

Contohnya, beberapa teman-teman pelajar di Palangkaraya yang mencoba berlatih parkour tanpa pemahaman yang baik tentang latihan fundamental dan dasar-dasar dari parkour. Alhasil, banyak dari mereka yang cedera dan akhirnya menghambat proses latihan mereka disebabkan cedera tersebut.

Parkour bukanlah untuk aksi stuntman. Parkour adalah untuk mereka yang peduli dengan diri mereka untuk menjadi kuat dan gesit sehingga kekuatannya bisa digunakan untuk membantu orang lain.

Apa yang dilakukan para anggota Yamakasi, David Belle, dan para original traceurs di luar sana di beberapa video dan film, merupakan suatu hasil dari latihan keras selama belasan tahun. Para praktisi baru yang membuat loncatan besar, teknik yang megah, besar, susah, dan panjang telah menyalakan sumbu yang akan terbakar habis sebelum mereka inginkan.

Ini karena tubuh mereka belum siap dengan apa yang mereka lakukan. Apakah efek samping dari 3,6 meter cat leap kalau bahunya belum mengalami 10.000 kali loncatan yang lebih kecil? Apakah efek samping dari lompat ke bawah dari ketinggian 4,5 m ke beton kalau kakinya belum pernah mengalami 10.000 drop dari 1,5 m? Waktu akan menjawabnya.

Traceurs terbaik di dunia bukan karena keturunan dari leluhur atau gila untuk mencoba segala hal yang baru sewaktu mereka muda. Mereka adalah yang terbaik dan terkuat karena mereka berkembang dengan bertahap. Mereka membangun lapisan demi lapisan tameng di tubuh mereka selama bertahun-tahun. Mengulangi gerakan-gerakan beribu-ribu kali dan tak terburu-buru menjalani proses tersebut.

Parkour itu rendah hati, sabar, dan seni disiplin yang berlangsung seumur hidup sekaligus sikap moderasi, tak berlebihan. Anda ingin coba?



Oleh: Daniel Giovanni (Parkour Indonesia)
Source: http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTAyMDE=

Related postings

Related Posts with Thumbnails